 |
Hotline |
(0343) 637575 |
(0343) 637676 |
SMS |
081 83 10755 |
081 555711055 |
| |
| |
|
 |
|
|
|Renungan Harian| |
|
|
|Kesaksian| |
|Profile| |
|
 |
Senin 28 Januari 2008
JANGAN REMEHKAN
1 Raja – Raja 11: 1 – 9
“Sadarlah dan berjaga – jagalah! (1 Petrus 5: 8)
Pendengar terkasih, banyak hal besar berawal dari hal kecil. Kebakaran hutan tidak jarang berawal dari sebuah puntung rokok menyala yang dibuat sembarangan. Tawuran yang melibatkan dua fakultas di sebuah perguruan tinggi tidak jarang berawal dari ‘tatap – tatapan’ dua mahasiswanya. Para pendaki gunung tahu persis, tantangan yang paling merepotkan mereka bukan jalanan terjal atau jurang curam, tetapi kerikil – kerikil kecil yang masuk ke kaus kaki mereka.
Begitu juga dengan dosa. Jangan bermain – main dengan dosa sesepele apa pun. Sebab, ‘yang kecil’ itu justru bisa menjadi pintu masuk ‘yang besar.’ Narkoba tidak jarang awalnya adalah kebiasaan merokok, dan kebiasaan merokok awalnya dari coba – coba sebatang dua batang rokok. Perzinahan atau pemerkosaan tidak jarang berawal dari film porno. Pembunuhan sadis tidak jarang berawal dari ucapan yang mengejek.
Hal ini juga terjadi pada Raja Salomo. Siapa tidak kenal Salomo, Raja Israel yang terkenal bijaksana? Kerajaan Israel mencapai puncak keemasan ketika berada di bawah pemerintahannya. Betul, kerajaannya adalah warisan Daud, ayahnya, tetapi kita tidak dapat memungkiri kehebatan Salomo dalam menangani masalah – masalah kenegaraan. Tragisnya, kebesaran Salomo justru kandas karena ia tidak tahan menghadapi ‘godaan’ isteri – isterinya. Bacaan kita mencatat akhir tragis perjalanan Salomo.
Pendengar terkasih, dalam segala keadaan, selalu mawas diri itu perlu. Seperti apa yang dikatakan Rasul Petrus, “Sadarlah dan berjaga – jagalah!” (1 Petrus 5: 8). Jangan karena merasa bahwa sesuatu itu hanya masalah ‘kecil,’ lalu kita membiarkan diri dijerat olehnya. (AYA)
Tidak ada dosa yang terlalu kecil untuk kita remehkan
Sumber: Renungan Harian Yayasan Gloria Januari 2008
|
| |
| |
Selasa 29 Januari 2008
RASA MALU
Lukas 15: 11 – 24
“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa (Lukas 15: 18)
Pendengar terkasih, bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).
Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau mengalami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.
Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang – orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.
Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa Surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan. (NDA)
Berhentilah menyesal atau Anda akan kehilangan hidup Anda
Sumber: Renungan Harian Yayasan Gloria Januari 2008 |
| |
| |
Rabu, 30 Januari 2008
SEPERTI ANJING MATI
2 Samuel 9: 1 – 13
“Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang” (2 Samuel 9: 13)
Namanya Mefiboset. Ia timpang karena terjatuh dari gendongan pengasuhnya saat berusia lima tahun. Selanjutnya ia dibesarkan di Lodebar, sebuah tempat yang tandus tanpa padang rumput. Sungguh cocok dengan kondisi hidupnya. Ia meratap dengan menyebut dirinya seperti anjing mati, binatang najis yang telah kehilangan nyawa (ayat 8).
Suatu saat, Daud, raja Israel dan sahabat ayahnya, memanggil ke istana. Mengingat kasih dan persahabatannya dengan Yonatan, ayah Mefiboset, Daud memperlakukan Mefiboset sebagai salah seorang anaknya. Harta milik dan hak – hak pria timpang itu dipulihkan. Selanjutnya, Mefiboset menetap di Yerusalem, kota damai sejahtera dan senantiasa makan sehidangan dengan raja.
Mefiboset mewakili kita semua, orang – orang yang timpang akibat dosa. Kita terbuang dari hadapan Tuhan dan tinggal di Lodebar, menjalani kehidupan yang gersang tanpa pengharapan. Seperti Mefiboset, kita juga tak ubahnya anjing mati karena upah dosa adalah maut.
Tindakan Daud disisi lain secara kuat menggambarkan anugerah Allah. Allah menebus kita dari dosa bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena kasih-Nya yang besar. Dia mengangkat kita sebagai anak-Nya dan memberi damai sejahtera. Dan kita diizinkan untuk makan sehidangan dengan-Nya, bersekutu dengan Raja segala raja dan memperoleh kehidupan yang kekal.
Anugerah Allah mendatangkan perubahan hidup yang sangat drastis. Atas semuanya itu, kita patut menjalani kehidupan baru ini dengan penuh sukacita dan ucapan syukur.
Dosa membinasakan, augerah menghidupkan
Sumber: Renungan Harian Yayasan Gloria Januari 2008
|
| |
| |
Kamis, 31 Januari 2008
GETAR TUHAN
Lukas 5: 1 – 11
“Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” (Lukas 5: 8)
Pendengar terkasih, pernah tersetrum listrik? Bagaimana rasanya? Maukah Anda mengulangi? Tidak bukan? Itu wajar. Namun, bagaimana bila yang Anda alami adalah ‘tersetrum’ Tuhan?
Seusai mengajar dari atas perahu, Yesus menyuruh Simon bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menangkap ikan. Seketika nelayan kawakan ini memprotes, tetapi akhirnya ia patuh. Hasilnya? Mujizat. Perahunya penuh ikan hingga hampir tenggelam. Lalu ada satu hal menarik yang terjadi dalam diri Simon. Ia menyadari ketidaklayakannya untuk mengalami rahmat itu.
Mengalami mujizat justru membuat Simon mengakui keadaannya sebagai orang berdosa. Biasanya jika seseorang mengalami mujizat, ia merasa senang bahkan sangat bangga. Namun, Simon justru gentar. Pengalaman dengan Yesus sungguh membuatnya terpesona sekaligus takut. Katanya: “Tuhan pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Pergikah Yesus? Tidak. Yesus justru mengundang Simon untuk lebih dekat kepada-Nya. Bahkan sangat dekat. Yesus ingin mengubahkan Simon yang menyadari bahwa dirinya tidak layak menjadi Petrus yang akan menjala manusia – manusia lain dengan jala rahmat Tuhan.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah tergetar karena karya Tuhan? Mungkin pernah, bahkan sering. Permasalahannya, apa yang menjadi buah dari getaran itu? Rasa bangga dan pongah rohani sembari membanding – bandingkannya denga pengalaman orang lain? Atau, justru sebaliknya: kerendahan hati yang menebarkan rahmat Tuhan bagi semua orang? Mari temukan mana yang sepantasnya kita rayakan. (DKL)
Ambillah waktu untuk menemukan rasa damai, daya ilahi dan rasa cinta Phil Bosman
Sumber: Renungan Harian Yayasan Gloria Januari 2008
|
| |
| |
|
|
| |
|
|